Di suatu desa yang
kecil, tinggallah seorang bapak dan ibu yang dalam Sehariannya ia
bekerja sebagai petani, ia mempunyai seorang anak yang diberi nama Si
Pitung. Sebagaimana dengan anak – anak betawi lainnya Si Pitung
dibesarkan dalam keluarganya sendiri dan diajarkan untuk membantu orang
tuanya. Dan juga belajar mengaji.
Si pitung merupakan
anak yang rajin dan saleh. Setelah agak dewasa Pitung belajar
pengetahuan agama dan silat serta ilmu bela diri lainnya dari Haji
Naipin, seorang ulama yang dihormati di kampungnya. Karena Si pitung
rajin berlatih ia menjadi murid kesayangan dari gurunya dan hampir semua
ilmu gurunya diajarkan kepadanya.
Meski menjadi murid
kesayangan Haji Naipin, tetapi Pitung selalu rendah hati. Kepada orang
lain ia selalu bersikap santun dan terpuji. Ia pun tak luput dari
gejolak masa muda. Ia menjalin hubungan dengan Aisyah, dan berjanji akan
menikah bila kelak usia mereka sudah pantas untuk menikah.
Pada suatu hari,
membantu warga di sana dari ceteng – ceteng Babah Liem ( segerombolan
yang sering menganggu di daerah sana). Ia menyerang Pitung dengan semua
kemampuan mereka, mengira bahwa Pitung akan mudah dirobohkan. Namun,
tanpa di duga Pitung malah membalas mereka dengan membantingnya ke tanah
hingga pingsan. Ada lima centeng yang mengeroyoknya. Satu demi satu ia
hajar tulang kering atau pelipis mereka hingga kesakitan. Lalu mereka
menggotong pimpinan centeng yang masih pingsan dan melarikan diri.
Beberapa hari setelah peristiwa itu, nama Pitung menjadi buah bibir
di seluruh Kebayoran. Namun, Pitung tak mau congkak. Ia bahkan
menghindar kalau ada orang yang bertanya kepadanya tentang kejadian itu.
Suatu hari, Ayah Si
Pitung menyuruh Si Pitung Menjual Kambing untuk kebutuhan mereka. Tetapi
setelah selesai menjual kambing tersebut dan mendapatkan uangnya, uang
tersebut di curi oleh para ceteng – ceteng Babah Liem. Setelah sadar
bahwa uangnya hilang dia pergi kembali ke pasar untuk mencari pelakunya,
setelah ia melakukan penyelidikan ia menemukan orang yang mencuri
uangnya. Orang itu sedang berkumpul dengan centeng-centeng lainnya di
sebuah kedai kopi.
Pitung mendatanginya dan menghardik, “Kembalikan uangku!”Salah seorang berkata, “Kamu boleh ambil uang ini, tapi kamu harus menjadi anggota kami.”
“Cuh! Tak sudi aku jadi maling,” jawab Pitung dengan kasar.
Mendengar perkataan
itu, Serentak mereka menyerbu Pitung. Namun, yang mereka hadapi adalah
Si Pitung dari Kampung Rawabelong yang pernah menghajar enam orang
centeng Babah Liem sendirian. Akibatnya, satu demi satu orang Babah Liem
kena tinju Si Pitung. Yang berani menggunakan senjata malah dimakan
sendiri oleh senjata mereka.
Semenjak kejadian
itu, Si Pitung memutuskan untuk membela orang-orang yang lemah. Ia tak
tahan lagi melihat penderitaan rakyat jelata yang ditindas. Nama Pitung
menjadi harum di kalangan rakyat jelata. Namun, pada saat yang bersamaan
Para tuan tanah dan orang-orang yang mengambil keuntungan karena
memihak Belanda menjadi tidak tenteram. Mereka mengadukan persoalan itu
kepada pemerintah Belanda.
Penguasa penjajah di
Batavia memerintahkan pasukannya untuk menangkap Si Pitung. Schout
Heyne, memerintahkan polisi dan penjaga keamanan disana untuk mencari
tahu keberadaan Si Pitung. Pengumuman pun di sebarkan kemana – mana,
yaitu hadiah akan di berikan bagi orang yang dapat menangkap Si Pitung.
Mengetahui dirinya
menjadi buron, Pitung berpindah-pindah tempat, bahkan pernah sampai ke
Marunda. Selama itu, ia tetap melaksanakan perampasan harta orang-orang
kaya, para demang dan tuan tanah. Harta rampasan selalu ia berikan
kepada rakyat yang lemah dan tertindas oleh penjajahan.
Karena kesusahan dan
kewalahan dengan Si Pitung. Schout Heyne memerintahkan orang untuk
menangkap Orang tua dan Haji Naipin. Mereka berdua pun dibui di Grogol,
untuk memancing Si Pitung Keluar dari persembunyiannya. Sementara, Si
Pitung terus menjalankan kegiatannya. Namun, ketika mendengar kabar
bahwa ayah dan gurunya ditangkap polisi. Ia mengirim pesan jika kedua
orang itu dibebaskan, ia bersedia menyerahkan diri. Schout Heyne setuju.
Pada hari yang
ditentukan, mereka membawa Haji Naipin ke tanah lapang. Pak Piun sudah
lebih dulu dibebaskan. Di tanah lapang itu, sepasukan polisi menodongkan
senjata kepada Haji Naipin. Pitung muncul sendirian. Schout Heyne
menyuruh Pitung menyerah. Pitung meminta agar Haji Naipin dilepaskan
dulu.
“Huh, tertangkap juga kamu, Pitung!” Schout Heyne berkata dengan nada sombong.“Iya, tapi nanti aku pasti akan lolos lagi. Dengan orang pengecut seperti kalian, yang beraninya hanya mengandalkan anak buah, aku tidak takut,” jawab Pitung.
Schout Heyne menjadi marah. Memberi aba-aba agar pasukannya bersiap menembak. Namun, perintah menembak sudah diberikan pasukan disana menembak dan Pitung pun roboh bersimbah darah.
Pitung dimakamkan beberapa hari kemudian. Banyak rakyat yang turut mengiringi pemakamannya dan mendoakannya. Mereka akan selalu mengingat jasa Si Pitung, pembela dan pelindung mereka.
Beberapa bulan kemudian Schout Heyne dipecat dari jabatannya karena ia telah menembak orang yang tidak melawan ketika ditangkap.
*** Cerita Rakyat Si Pitung ***
Si Pitung gugur sebagai pahlawan dan dikenang. Kisah Si Pitung
Berkembang menjadi cerita rakyat berbagai versi, kemudian di cetak
menjadi majalah dan buku. Kisah ini juga diproduksi menjadi film seperti
Titisan Si Pitung